Sebuah Jurnal Kematian #8


       Kupu-kupu hitam, putih, kuning, dan sebagian yang bercorak menari di sekitarku. Seolah mereka mengajakku bermain bersamanya. Angin yang membelai sayap-sayapnya bagai nyanyian alam. Tabir gelap yang mengelilingi tubuhku, perlahan hilang seiring syahdunya pertunjukan yang mereka pertontonkan kepadaku.
Kupu-kupu yang lucu kemana engkau terbang..., Kalimat itu terus mengiang di kepalaku, seakan menikam masa kecilku yang bias bagai bait-bait udara di musim kemarau.

       Pepohonan rindang dan bangkai mobil tua yang di selimuti semak belukar menertawaiku disertai dengan cerca, seakan aku mahluk terhina dari mahluk yang paling terhinakan. Gelegar tawanya seakan memecah telingaku yang sudah kututup rapat dengan kedua tanganku.
Daun tua berwarna kecoklatan pun tak luput menertawaiku meskipun dalam keadaan mengering di atas tanah. Walaupun telah berguguran mereka tak luput dari kematian, dan malah semakin kencang menertawaiku.

 Jiwaku yang tersulut bara neraka langsung meledakan amarah membabi-buta. Kupu-kupu yang menari di sekitarku hangus dengan seketika, dan hanya menyisakan abu.
Ku injak-injak daun kering yang menertawaiku, tanpa ampun kakiku terus bergantian menginjakkan ke tanah.
Mobil rongsokan itu kulempari dengan batu yang ada disekitarku, kutendangi tanpa ragu. Biarlah mereka merasakan betapa amarahku meluap, seakan hendak memuntahkan darah yang mendidih.

      Kakiku berdarah-darah, mobil rongsok dan daun-daun kering itu babak belur sudah. Lalat-lalat menghinggapi kami sambil menjilati darah kami yang terus mengalir. Bait-bait udara tadi, kini berubah menjadi hawa panas bara neraka yang bergejolak.
Mataku melelehkan lahar panas yang siap membajiri tempat itu. 
Dengan sadar, aku merebahkan diriku pada sebuah batu besar dengan langkah yang gontai.
Napasku tersengal-sengal tak karuan. Tubuhku lemas tak berdaya, kaki-kakiku tak bernyawa seakan hilang kendali.
Dalam keadaanku yang terkulai lemas dan setengah sadar, bayangan dirimu kembali berkelebat dalam pikiranku.

      Aku kembali teringat akan sosokmu yang hampir kuraih dengan kedua tanganku. Bibirku menyeracau tanpa sadar, pendengaranku samar seketika, pandanganku tiba-tiba gelap. Aku tak bisa merasakan lagi napasku, aku tak bisa lagi merasakan detak jantungku, aku tidak bisa lagi merasakan darahku mengalir ke sekujur tubuhku.
Namun banyangan dirimu masih bisa kudapat, masih bisa kurasakan, masih bisa kugambarkan dengan jelas.

     Aku masih bisa merasakan hujan yang menghujani tubuhku. Pendengaranku kini mulai kembali, suara gemericik air hujan perlahan terdengar dengan jelas. Bahkan aku dapat mendengar suara burung-burung yang berteduh menyampaikan nada pilu.
Namun pandanganku tetap gelap. Tubuhku yang tak berdaya kini telah basah oleh hujan.
Saat hujan datang, aku selalu teringat sosokmu yang selalu membawa payung bermotif bunga. 

 Aku merasa bahwa ada seseorang yang memayungiku. Kepalaku tak terkena hujan, aku yakin bahwa ada yang memayungiku.
Aroma ini... Betapa aku mengenal aroma ini, aroma ini adalah aroma yang selalu kuingat.
Aroma ini adalah aroma dirimu. Aku tak mungkin salah dengan penciumanku. Tapi lidah kelu, betapa aku tak bisa menggerakkan bibirku. Aku mohon bersuaralah.
Dan mengapa dirimu tak mengeluarkan sepatah katapun?

Kugerakan seluruh tubuhku dengan sekuat tenaga, dan aku terbangun dari tidurku. 
Aku tertidur dalam bus...



Bersambung...

Komentar

Postingan Populer