Sebuah Jurnal Kematian #5


        Aku menatap langit tenang sebagai harap tetap berdiri tegak mencarimu. Segala petunjuk merujuk pada satu cahaya, cahaya yang kutuju ditengah lorong kegelapan yang merangkul dirimu. Tak ada satupun jerit yang menyembunyikanmu.
Aku menyusuri telaga waktu dengan langkah yang setengah siap menemukanmu. Tak ada kata berhenti barang sejenak. Renggutlah napasku saat semua ini selesai. Aku begitu tak mampu mengatakan dengan rasa yang tak biasa ini.

   Dengan langkah ini, aku begitu yakin menemukanmu. Semakin aku mengingat ramah senyummu yang tak pernah murung.
Hati ini begitu tak sabar mengisi cerahnya hari bersamamu.
Aku teringat upaya percakapan singkat kita yang begitu aku sesali. 
Aku begitu percaya bahwa dirimu sang pemilik cintaku yang terbelenggu sebuah ikatan...
Tapi aku tak peduli lagi, asal pada akhirnya aku bersamamu.

     Aku mulai menyalakan kembali mataku dengan beribu tanya. Tak peduli bibirku memutih, aku akan melarutkan rasa ini untuk menemukanmu.
Aku adalah orang yang akan menyaksikan sayapmu menyapukan puing kesedihanku.
Dengan upaya, dengan luka, dengan nestapa aku akan memalsukan embun demi memudahkan jalanku.
Mungkin langkahku akan bersayap demi mempersatukan kita. Lalu meluluskan aku dari takdir yang kian mungkin dengan berbagai kemungkinan menutupi jiwa yang dendam.

       Sedikit demi-sedikit aku dapat menyusun paragraf-paragraf dirimu untuk mengalamatkannnya.
Aku kian paham sekarang, bahwa tidak adalagi sesuatu yang sejati selain dirimu.
Betapa peristiwa ini membuatku sendiri dari kesendirianku.
Tapi apapun yang terjadi, aku percaya pada semarak hari esok yang bisa kita rayakan berdua.
Sedikit demi-sedikit jarak ini kian memendek, tak akan ada lagi rindu yang menjadi pemisah.
Aku telah bersumpah pada jarak yang memisahkan kita, bahwa aku akan menangkapnya dengan kasih sayang yang sudah tak bisa lagi kutampung.

       Akhirnya aku tiba dalam empat langkah terakhirku.
Sebuah capaian yang kuinginkan, dengan pelampiasan sedih yang kutabung selama ini dengan sepi yang begitu sendiri.
Aku kembali mencium aromammu yang samar-samar. Aroma yang sudah lama sekali tak kuhirup. Namun aroma ini kian menipis, seakan perlahan pergi mengejar empunya. 
Kuraih aroma itu namun tak kujangkau dengan kedua tanganku. Aku bisa melihat aroma itu melambai kearahku seakan mengucapkan selamat tinggal.

     Aku mengerutkan dahiku supaya aku tak kehilangan aroma itu dari pandanganku. Aroma itu lincah melompati orang-orang yang berkerumun disepanjang jalan. Tapi aku masih bisa melihatnya, dan aku belum melepaskannya dalam pandanganku.



Bersambung...,

Komentar

Postingan Populer