AKTIVITAS SOSIOLOGIS DALAM CERPEN BAPAK KARYA AHIMSA MARGA Oleh Mohamad Syahril Sobirin 1A


AKTIVITAS SOSIOLOGIS DALAM CERPEN  BAPAK KARYA AHIMSA MARGA
Oleh
Mohamad Syahril Sobirin 1A
Npm 172121034

Sinopsis
Usiaku baru 8 tahun ketika ibu melarangku mbeksa. Padahal baru saja aku bisa naik kendi kosong, mengatur keseimbangannya sambil mbeksa dan memutarnya ke arah delapan mata angin.
Ibuku dulu penari Gambyong di pendopo kewedanan, begitu bisik-bisik yang kutangkap dari kanan-kiri. Di situ ibu bertemu laki-laki yang katanya adalah ayahku. Di kamarku ada potret laki-laki tak kukenal tetapi tak pernah mengusik keingintahuanku.
Suatu hari sepulang sekolah, kulihat ibu bercakap-cakap dengan seorang laki perlente. Wajahnya halus, sedikit diangkat, menunjukkan dia berasal dari keluarga yang berbeda dengan kami. Ibu bersikap sangat hormat pada laki-laki yang dipanggilnya “Ndoro” itu.
Aku terpaku. Aneh rasanya dipeluk orang asing yang tiba-tiba memintaku memanggilnya “Bapak”. Sepintas kulihat ada kemiripan wajahnya dengan potret laki-laki yang tergantung di kamarku. Entah kenapa, potret itu lalu kusobek-sobek sampai hanya tersisa serpihannya.
Itulah pertama dan terakhir kali kulihat laki-laki itu.
Bapak adalah hantu bagi hidupku. Aku tidak mengenalnya, tetapi dia terus menguntitku seperti bayangan. Sepanjang hidup, perasaanku padanya sambur limbur, antara menolak sekaligus terobsesi. Aku terkurung antara kemarahan yang kutanam dan kerinduan yang kupendam.

Dalam cerpen “bapak” ini penulis membuat cerita yang seolah-olah memihak pada kaum komunis, seakan-akan komunis adalah korban, seakan-akan komunis lah yang dizalimi bisa dibuktikan dari penggalan kalimat cerpennya
“Jauh sesudahnya, kutemui seorang perempuan yang pernah menghuni kamp Plantungan di daerah Kendal, semacam Pulau Buru bagi perempuan yang dituduh sebagai anggota organisasi di bawah sayap Partai Komunis Indonesia.
Usianya 12 tahun ketika diambil paksa usai pentas beksa di kelurahan, karena namanya sama dengan nama perempuan tokoh organisasi perempuan yang sedang dicari aparat. Meski tidak masuk akal, anak itu tetap saja dikurung di situ selama 11 tahun!”
Tak ayal bayak pembaca yang beranggapan bahwa cerpen ini berbau komunis bahkan kental sekali dengan unsur-unsur komunis. Karena terlalu pro terhadap komunis.
Jalan cerita cerpen ini tentu tidak asing bagi kita bahkan mungkin terjadi di lingkungan sekitar kita, terlihat dalam hubungan komunikasi dan kedekatan sosial tokoh utama merupakan gambaran tentang kondisi kehidupan masyarakat bisa dilihat dari kutipan berikut.
 Tapi kegembiraan bisa menguasai Beksan Bondan, langsung dipupus oleh ibu. “Ndhuk, mulai sekarang kamu tidak usah ikut latihan nari lagi di sana.”
Aku tidak tahu alasannya. Toh kursus beksa itu tidak bayar. Lagipula, bukannya ibu yang mendorongku belajar mbeksa?
Kutipan diatas menggambarkan kehidupan tokoh utama sebagai anak usia delapan tahun yang baru saja menguasi mbeksa namun kegembiraannya langsung dipupus oleh ibunya tanpa memberi sebuah alasan. Tentu saja hal ini bukan hal yang begitu asing, hal ini sering terjadi dalam kehidupan masyrakat yang dilatar belakangi oleh kehidupan social.
Dan dalam cerpen ini nampak  jelas kesenjangan sosial antara kaum borjuis, proletar,dan kaum marjinal dapat dibuktikan pada kutipan berikut.
Suatu hari sepulang sekolah, kulihat ibu bercakap-cakap dengan seorang laki perlente. Wajahnya halus, sedikit diangkat, menunjukkan dia berasal dari keluarga yang berbeda dengan kami. Ibu bersikap sangat hormat pada laki-laki yang dipanggilnya “Ndoro” itu
Bisa dilihat dari kutipan diatas bahwa ibu si tokoh utama memiliki derajat yang lebih rendah dari laki-laki yang sedang berbicara denganya dan si ibu sangat hormat pada laki-laki yang dipanggilnya. Sudah dapat dilihat bahwa cerpen ini menguak bahwa dikehidupan sosial masyarakat masih terdapat kelas-kelas sosial yang membedakan kalangan atas dan kalangan bawah.
Kalau tidak di pelataran, ibu mengajakku tidur di lantai berlapis dua helai tikar pandan. Aku selalu menemaninya sambil berselimut jarik, kain batik untuk menahan udara malam. Aku suka bau jarik yang sehari-hari membalut tubuh ibuku.
Kalimat diatas merupakan sebagai penguat bahwa si tokoh utama berasal dari kalangan proletar, yang tak lain merupakan kalangan kelas bawah. Tak heran apabila cerpen ini disisipi oleh kelas-kelas sosial yang menjadi gambaran kehidupan masyarakat karena si penulis sangat konsisten dengan perjuangan yang memperjuangkan hak asasi manusia.
Larangan mbeksa tampaknya tak ada kaitannya dengan itu semua. Ibu tidak melarangku mbeksa. Aku hanya tidak boleh lagi ikut latihan mbeksa di tempat itu. Ibu tak melarangku main wayang-wayangan di pelataran bersama teman-teman setiap bulan purnama.
Jika dilihat dari kutipan tersebut sangat kental sekali dengan adat Jawa, jelas berarti kejadian tersebut terjadi didaerah jawa yang berarti terjadi pada kehidupan masyarakat jawa dapat diartikan bahwa masalah-masalah yang terjadi dan terdapat pada cerpen ini merupakan gambaran kondisi masyarakat jawa.
Sampai purnama pada malam tanggal 11 September 1965, kami masih bermain wayang-wayangan di bawah siraman sinar bulan.
Aku masih ingat, malam itu gelap berselubung dingin. Hanya satu-dua bintang di langit. Kamis malam Jumat Ibuku terus terjaga. Kata ibu, pada dini hari itu, untuk ketiga kalinya dalam dua bulan terakhir dia melihat bintang berekor panjang yang cahayanya gemerlap di langit utara…
Kutipan cerpen ini menunjukan bahwa peristiwa pada cerpen ini terjadi pada tahun 1965 pada bulan September yang ternyata pada tanggal 30 merupakan peristiwa G30s/PKI peristiwa pembantaian terhadap orang-orang yang dituduh komunis.
Suatu pagi, kulihat jalanan dipenuhi orang berteriak-teriak membawa senjata. Mereka berjalan tergesa entah ke mana. Ibu menarikku masuk ke rumah, jadi aku hanya bisa melihat orang-orang yang beringas itu dari kisi-kisi dinding kayu.
Sejak itu, satu per satu temanku menghilang. Pelan-pelan, semakin banyak rumah kosong di kampungku. Aku kehilangan Pakdhe Mar yang dermawan, Pakdhe Kirno yang suka bercerita, Pakdhé Sarji yang sering mengajari kami nembang.
Kutipan diatas menguatkan bahwa cerpen ini menceritakan kondisi masyarakat jawa pada saat terjadi peristiwa pembantaian G30s/PKI. Dapat diartikan orang-orang terdekat tokoh utama merupakan PKI atau dituduh PKI masih ada dua kemungkinan. Dan menghilangnya orang-orang terdekat tokoh utama masih jadi pertanyaan apakah mereka melarikan diri atau dibantai masih ada dua kemungkinan juga.
Banyak hal yang baru kuketahui setelah aku berangkat dewasa.
Tanah kosong itu adalah salah satu kuburan massal yang mayatnya hanya ditimbun tanah kurang dari setengah meter. Glundhung pecengis itu bukan hantu, tetapi betul-betul penggalan-penggalan kepala manusia.
Kekejian yang tak terdefinisikan itu kusebut induk dari segala kejahatan. Kemudian juga kuketahui bahwa pada masa-masa itu hanya ada dua pilihan: menuduh atau dituduh; membunuh atau dibunuh. Nurani dimatikan oleh senyawa instruksi, dendam dan hasrat bertalian. Nyawa manusia tidak ada harganya, bahkan jika dibandingkan ayam.
Dari kutipan ini bisa dilihat kekejaman-kekejaman yang terjadi pada masa itu yang hanya ada dua pilihan menuduh atau dituduh, membunuh atau dibunuh. Kebiadaban pada masa itu sudah mematikan nurani manusia seperti tadi dikatakan bahwa si penulis sangat konsisten sekali menulis  tentang hak asasi manusia.
Setahuku, sampai hari ini tak pernah ada pembahasan mengenai kebangkrutan moral manusia pada masa itu, sehingga membuka ruang keberulangan. Tahun-tahun berselimut maut dari masa kecilku baru kusadari berpuluh tahun kemudian. Baru kutahu juga, sebagian tanah di kampung itu adalah milik keluarga laki-laki yang tak pernah kutahu namanya, yang memintaku memanggilnya “Bapak”. Baru kutahu,mengapa banyak tetangga begitu baik padaku. Pun hubungan Pakdhe Nardi, laki-laki itu dan ibuku.
Terkuak sudah mengapa judul cerpen ini berjudul bapak. Ternyata kekejaman yang peristiwa G30s/PKI yang terjadi pada masysrakat jawa tengah ada kaitannya dengan tokoh utama yang merupakan dalang dari kebiadaban yang terjadi didaerah itu, pada masa itu ternyata bapak dari si tokoh utama. Kondisi sosial yang terjadi pada masa itu tentu bertentangan pada masa sekarang kejadian tidak berperikemanusian itu mungkin tidak akan terjadi pada masa sekarang, namun saya rasa kejadian ini masih terjadi pada masa sekarang hanya saja dengan kemasan yang berbeda.   

Komentar

Postingan Populer