Sebuah Jurnal Kematian #7


       Begitulah aku kehilangan jejakmu, aku tak mampu membaca jejak kali ini. Setiap langkahmu yang menyisakan jejak itu seolah terhapus waktu secara perlahan. Aku patah arah, penyesalanku kian berlipat ganda. Betapa aku membenci diriku sendiri.
Kembali aku terpisahkan oleh jarak yang menyiksa, siksaannya tiada ampun. Betapa bertubi-tubi aku kehilanganmu.

       Lagi-lagi rasa ini datang tiada ampun. Aku begitu meresapi kesalahanku. Aku begitu dipermalukan oleh keadaan, keadaan yang mencabik-cabik perasaanku menjadi pasir yang melebur dengan tanah.
Aku yang jelas terjerat oleh dirimu, hilang berbekas jejakmu. 
Diamnya aku menjadi bentuk keresahanku dalam menemukanmu.
Saat aku kehilanganmu lagi, aku merasa tenggelam dalam air yang begitu mendidih. Dan aku tak berkutik karena panasnya.

       Saat ini aku merasa tersesat pada sebuah dunia yang dinamakan kecewa. Aku terlalu melambungkan harapku, hingga saat merasakan jatuhnya begitu sakit. Sakit ini tak terwakili oleh apapun, sakit yang menyakitkan, lebih menyakitkan dari sakit-sakit yang pernah kualami.
Kesadaranku begitu fasih mengatakan bahwa hanya inilah yang mampu aku lakukan.
Sepertinya takdir tak merestuiku untuk menemukanmu.
Tapi aku siap menentang takdir untuk menemukanmu. Takdir itu bisa berubah, dan akulah yang akan merubahnya.

       Aku tak peduli meskipun diterpa badai kegagalan dalam mencarimu. Aku bersumpah akan menemukanmu, itulah janjiku pada diriku sendiri.
Aku begitu percaya bahwa kegagalan itu ada berhentinya. Aku sangat percaya bahwa kegagalan pun bisa merasakan lelah.
Hal yang harus segera aku lakukan adalah bangkit dengan segera untuk mencarimu kembali.
Dan aku pasti akan menemukanmu. Aku sangat yakin tentang hal itu.

       Langkahku sekarang adalah kembali mencarimu. Meskipun aku tak tahu harus kemana melangkahkannya.
Aku tiba-tiba teringat sesuatu tentang dirimu, yaitu api yang menjalar pada sorot matamu. Dan aku seketika sadar bahwa ada api yang menjalar selain pada sorot matamu. Bentuknya hampir sama dengan bola matamu dan sama-sama memancarkan cahaya kehidupan. Ya... Matahari.

       Aku tak tahu kenapa pikiranku langsung merujuk pada matahari. Mungkin ini semacam petunjuk dari Tuhan untuk aku menemukanmu.
Aku tak mau lagi berfikir panjang tentang hal itu. Aku langsung menuju tempat matahari terbenam dimana itu merupakan tempat yang tak jauh dari kediamanku sekarang.
Apakah ini arti dari sebuah kepulangan?. Sepertinya ini jawaban dari pertanyaanku selama ini. Apakah ini teka-teki yang akan terungkap.
Aku begitu berharap kembali. Harapanku pun mulai tumbuh kembali, namun aku tak mau terlalu melambungkan harapku karena aku begitu tahu akan rasa sakit yang diakibatkannya.

      Kemudian kuikhlaskan langkahku untuk melangkah kesana



Bersambung...,

Komentar

Postingan Populer