Tempat Waktu
Tempat adalah kasih dari sebuah kisah dan keluh berpelukan, dengan sepi yang membunuh perlahan. Sedangkan waktu adalah tempat menunggu dari segala patuh yang bertemu, dengan sepi yang membunuh perlahan. Sementara tempat dan waktu masih saja terjaga. Ingin menghubungimu tapi aku ragu. waktu demi waktu menyiksaku perlahan bersama sepi yang membunuh perlahan.
Bayangmu tak kunjung muncul, dan waktu tertidur. Tetapi tempat ini malah menyiksaku juga, bersama sepi yang membunuh perlahan. Tempat ini merengkuh kesunyian hati, bersama semilir angin; sebuah rasa ingin kuungkapkan kepadamu. Dan hasrat ini kembali bimbang diantara dosa cantik yang mengkhianatinya.
Aku ada di sini. Di tempat ini. Menunggumu.
Terakhir, tatap yang kau titip pada temanmu itu membuatku dilema. Di tempat ini, tatap itu menjelma penyakit. Penyakit yang lebih dari kesedihan; dan pikiran membunuhnya secara perlahan seperti sepi. Dalam setiap napas yang menghembuskan namamu, tatap itu menjadi candu seperti pisau tajam yang mengalirkan banyak darah.
Aku menutup mata dan ingin bergabung dengan mereka yang menanam mawar. Mawar dapat membuat hati setiap orang berkembang setiap waktu. Ini dia, inilah keramahan waktu yang membuatku berdamai dengan semua ini.
Satu minggu yang lalu dia masih bersamaku. Dan itu yang kupahami. Namun beberapa hari terakhir dia sulit dihubungi. Dan itu yang tak kupahami. Dia seolah-olah membuat apa yang kita jaga menjadi tak berarti pada akhirnya. Dia tak pernah lagi mengangkat teleponku, dia tak membalas semua pesanku atau bahkan sekedar membacanya. Apa dia lupa? Dia sendiri yang membuatku merasa utuh, membuat mawar bermekaran, namun mematahkannya saat ia sedang tumbuh.
Temannya yang ia titipi tatap terakhirnya itu selalu memerhatikanku dari jauh.
Komentar
Posting Komentar