Sebuah Jurnal Kematian #6
Tetiba datang sedikit hujan dengan perlahan, betapa aku akan kehilangan jejak karna hujan itu. Hujan yang menghapus aroma jejakmu yang memasuki celah-celah gedung di tiap sudut jalan.
Sementara kebingungan lahir dengan sederhana seiring jejakmu yang kian berpencar.
Hujan yang turun kini kian deras dan tak sedikit lagi jumlahnya, rintiknya menjadi bilangan tak terhingga bahkan tak terdefinisikan karena saking banyaknya.
Hal yang selalu aku sadari bahwa hujan selalu basah. Basahnya tak mengenal diam ataupun mati, basahnya selalu bergerimis dalam rintik hujan yang turun. Pandanganku kulontarkan pada seluruh penjuru mata angin, namun jejakmu hilang berpencar bersamamu dan dipecah hujan dengan kebasahannya.
Aku berlarian kecil mencari tempat berteduh, tepat tiga blok dari tempat aku kehilangan jejakmu. Aku menemukan enam bangku berderet dengan dipayungi pohon-pohon yang lumayan rindang. Seperti lumayan cocok untukku berteduh disana.
Kutaruh pantatku pada bangku kedua. Ya, memang disini hujan tak menyentuh kulitku sedikitpun. Semoga hujan ini tak berlangsung lama, sebab aku akan melanjutkan pencarianku untuk menemukanmu. Sosokmu yang kuyakini sudah menapaki tempat ini. Aku begitu yakin dengan firasatku, bahwa keberadaan dirimu masih bisa kurasakan disekitaran tempat ini, dan aku merasakan dirimu berada didekatku.
Sesuai dengan harapanku, hujan tidak berlangsung lama. Aku kembali berdiri dan kembali memulai langkahku menemukanmu.
Aku kembali berjalan kearah barat tepat di tempat terakhir aku kehilangan jejakmu. Dari arah yang berlawanan, berjalan sesosok perempuan dengan jubah hitam, ia terlihat berjalan dengan terburu-buru menuju halte, tampaknya ia sedang mengejar waktu melihat bus di halte itu akan segera berangkat.
Sosok perempuan itu mengingatkan aku pada seseorang, seorang perempuan dengan bunga mawar ditangan kanannya dan membawa payung bermotif bunga.
Betapa terkejutnya aku. Ternyata sosok itu merupakan sosok yang selama ini aku cari. Betapa bodohnya aku, saat berpapasan dengannya, aku tak menyadari apapun. Aroma ini datang kembali, aku tak menyadari bahwa aroma ini adalah aroma yang kucium tadi. Sama seperti tadi aroma ini perlahan menghilang seiring kepergiannya.
Aku memutar arah, berlari menuju halte. Kelihatannya bus itu sudah pergi. Namun apakah ia juga ikut pergi bersama bersama bus itu? Ia atau bukannya harus kupastikan sendiri.
Aku masih mencium aromanya walaupun samar-samar. Aku tak bisa menerobos kerumunan orang yang berjalan lalu-lalang tak karuan di jalan ini. Walaupun habis diterpa hujan kerumunan orang dijalan ini tak kunjung surut. Perlahan namun pasti, aku menyelinap diantara kerumunan orang-orang. Di halte itu tak kulihat sosok perempuan yang kucari Sepertinya ia sudah pergi bersama bus tadi yang ia kejar dengan pasti.
Aku kehilangan jejakmu lagi. Aku tak tahu tujuan dari bus itu. Tapi yang pasti bus itu memiliki tujuan, aku harus mencari tahu kemana tujuan bus itu.
Tapi ada satu hal yang begitu mengganjal di benakku. Meskipun aku tahu tujuan bus itu, aku belum tentu tahu kamu akan berlabuh dimana. Setiap bus pasti memiliki rutenya masing-masing, namun setiap penumpang berhak menentukan dimana ia hendak berlabuh.
Bersambung...,

Komentar
Posting Komentar