Sebuah Jurnal Kematian #3
Sepertinya aku menderita penyakit klinsomnia, sebuah penyakit yang kukarang sendiri. Penyakit yang hadir dengan penuh derita, karna sebuah sunyi yang begitu sepi.
Aku sudah bermandikan derita sejak lahir, dan sekarang menderita penyakit pula. Sungguh aku begitu liar dalam sepi.
Dalam kesendiriaku, aku mengenalmu dengan berbekas wajahmu diingataku. Aku kian ditenggelamkan dengan ketulian, sebab aku benar-benar jatuh. Aku tak mau mendengarkan sisi terburuk, aku tak mau mendengarkan segala kemungkinan terburuk.
Aku tak akan pernah berhenti melakukan segala puja-puji untukmu, aku tak pernah berhenti menunggumu, aku pasti akan menemukanmu.
Doaku tak pernah berhenti melangkah, dengan Rima yang ditopang Tuhan untuk menemukanmu.
Bibirku sulit untuk menolak memujamu, aku menasbihkan kata-kata rindu juga kata yang kuselingi bukti betapa aku mencintaimu.
Percayalah bahwa aku tak pernah berusaha melupakanmu, meskipun didatangkan berbagai kekhalifahan yang tidak terungkap dengan leburnya rasa yang memang merupakan sifatku. Percayalah tidak ada perbedaan caraku menemukanmu.
Kadang aku berpikir bahwa takdir telah merampasmu dariku. Tapi bermunculan berbagai spekulasi akan kenyataan dari sebuah harapan.
Kita hanyalah sebatas orang asing yang tak saling mengenal, tak pernah saling berharap dengan tatap.
Kita saling menyapa, mungkin karena kelengahan Tuhan atas semua alur kehidupan yang ia kendalikan.
Dari semua kemungkinankku dalam mengungkapkan, aku begitu takut akan sebuah perasaan yang hanya berpihak pada sebelah pihak. Sebuah perasaan yang belum tentu berbalas, perasaan yang dirasakan seorang diri.
Dunia serasa menghilang seiring dengan kehilangannya, dia begitu dalam merenggut sadarku.
Aku ingin memiliki kemarahannya, aku ingin bahagianya, aku ingin segala dari dia, aku tetap menginginkannya. Tak peduli walaupun perasaan ini hanya berlangsung sebelah pihak, aku akan menghiasi dengan segala cinta yang tak kenal layu.
Telah kukerahkan segala kemampuanku untuk mencarimu. Semua ciri-cirimu telah kusebarkan pada publik, namun tak ada seorangpun yang tahu akan dirimu. Seorang perempuan yang membawa bunga mawar ditangan kirinya dengan payung merah jambu bermotif bunga sakura. Yang jelas payung itu terlihat seperti barang paling berharga dalam hidupmu. Dan kalau kutaksir, bahwa dirimu memiliki kenangan dengan bunga mawar.
Sepatah atau duapatah kata untukmu "aku merindukanmu"
Aku tak akan pernah berhenti mencarimu.
Aku ingin kelak kita bersama dipayungi kebahagiaan dengan ukiran nama kita yang menyelimuti.
Bersambung...,

Komentar
Posting Komentar