Sebuah Jurnal Kematian #2
Dua purnama sudah kulewati dengan nestapa, tanpa tawa yang menjerat senyum sedu. Jiwaku pontang-panting dengan terlunta-lunta mencarimu. Siapakah pemilikmu kemanakah Tuhan membimbingku mencarimu. Diamku mencarimu cukup tingkah laku.
Haruskah jalan ini kulalui saat kembali, aku tak sanggup menghadapi takdir yang terus menerus menyetubuhi. Tuhan kembalikanlah ia padaku meskipun sepenuhnya ia milik-Mu.
Seribu jalan sepi kulalui dengan pepohonan yang tak sendiri. Bangku-bangku yang tak diduduki semakin menyepikan jalan itu. Aku berdisuki dengan awan yang begitu awam. Cahaya bulan tak menjawab malah berbalik menusukku dengan kegelisahan.
Ada jarak diantara kita yang begitu terbentang. Buktikan bahwa mimpiku adalah warna dirimu. Dan jangan campakkan doaku yang tulus.
Burung gereja yang saling bercumbu dibalik etalase toko, singgah pada mataku yang lusuh. Aku menyerangnya dengan tatapan kosong. Ia terbang ke bangku-bangku kosong yang tidak diduduki itu. Ia sibuk mencari kambing hitam, namun beberapa saat kemudian saling bercumbu kembali.
Aku dibuat heran karenanya, wajahku kian lusuh memandangnya. Aku yang tak berteman, dibatasi keyakinan sebuah ketulusan dedaunan hijau yang gugur menyelimutiku. Apakah ini sebuah goresan keraguan?. Tapi aku tetap melanjutkan perjalananku untuk mencarimu. Gedung demi gedung kulewati, rumah demi rumah kulewati. Tak hilang sedikit pun percayaku.
Jujur aku begitu tak mampu hilangkan wajahmu dalam ingatanku. Aku tak pernah ragu meski kau tak pernah disampingku. Aku begitu rela melintasi awan sambil meneriakkan wajahmu dalam ingatanku. Sayangnya aku tak tahu namamu, aku tak pernah tahu namamu. Akan kucari dimana wajahmu kecuali aku menangis untukmu dengan rasa ingin bertemu.
Dengarkanlah wajahmu yang kuterikan dengan keras dalam ingatanku.
Datanglah barang sekali walau hanya dalam mimpi.
Selama aku tak menemukanmu, air mataku tak akan pernah mengering.
Bersambung...

Komentar
Posting Komentar