Sebuah Jurnal Kematian #4
Pada langkah ke dua belas, aku menatap kabar dengan harap menemukanmu. Beberapa orang yang kutemui mengatakan pernah melihat sosokmu dari berita yang kuberitai di seluruh kota ini.
Aku berharap sebuah jalan pulang yang menghampiri kepulangan. Aku pernah merasa hidup ini tak adil, tapi berkat kabar yang kelak menghampiri kepulanganmu, aku akan kembali menjutkan langkah yang sempat tertahan untuk menemukanmu.
Untuk menemukanmu aku melintasi setapak masing-masing Orang yang tak kukenal. Aku tak dapat tersenyum dalam senyuman, aku tak dapat melangkah dalam langkahku. Namun semua berbeda, saat datang kabar yang terpenjara dalam pengelihatan seorang pedagang di pinggiran kota. Ketika tatapku lelah mencari, hadirlah kabar tersebut yang membangunku dalam kematian sesaat.
Beberapa arti kini menemani langkahku untuk menemukanmu. Dengan cerita yang setia pada kasih yang nyata.
Sosokmu tertangkap pedagang itu.
Sosok wanita yang memegang mawar ditangan kirinya yang juga terkaitnya sebuah payung bermotif bunga ditangannya.
Perempuanku telah ditemukan, walaupun aku belum menemukannya, setidaknya ia masih berada di sekitar kota ini.
Kini kuikhlaskan semua lelah ini. Kabar ini begitu menikam diriku yang sempat ragu dengan rindu kemarin. Sempat hadir tanya apakah aku benar-benar memilikimu, walaupun kita tak benar-benar saling mengenal.
Sebuah informasi berharga kudapat dari pedangang itu. Mataku kembali terbuka dengan segala kesanggupan untuk mengenalmu dalam langkah menemukanmu.
Aku begitu bahagia menyandang jeratan asmara yang akan mempertemukan kita. Aku memasang sempat terbuai pasrah. Tapi keyakinanku begitu meyakinkan semua. Tak ada kata terlanjur untuk berhenti, aku tetap melangkah untukmu.
Saat aku menemukanmu aku tak tahu apa kata yang tepat untuk kuucapkan. Aku akan menikmati hari bersamamu tanpa sepi. Aku begitu yakin bahwa cinta tak akan pernah tertukar. Resahku kini adalah sebuah isyarat bisu untuk menemukanmu.
Senyuman bibirku kembali menyentuh langkahku yang mulai bicara akan kebohongan yang tulus. Kebohongan yang tak akan berdusta, bahwa aku akan menemukanmu dengan rasaku ini.
Satu hal yang harus kamu tahu, bahwa api cintaku yang menjalar di matamu masih kau bawa. Kemanapun kau membawanya, jiwaku akan selalu bersamamu.
Satu pesanku untukmu, jangan sampai api cinta itu merambat ke hatimu sebab dirimu akan kerepotan sendiri. Dan aku tak mungkin tega membayangkannya apalagi melihatnya langsung dengan kedua bola mataku.
Kau tak mungkin bisa menapikan dahsyatnya amuk rindu itu.
Bersambung...,

Komentar
Posting Komentar