Sebuah Jurnal Kematian #1
Api yang menjalar dari kedua bola matamu, mengawasi cemas. Sejuta benang udara dengan bau danging terbakar lenyap pada belahannya. Aku rasa petaka terjadi karena salah kita sendiri. Bermacam tuduhan pandangan yang terjun bebas, sudah kuputuskan karena api yang menjalar dari kedua matamu, dan semua itu kesalahanku.
Saat api itu menjalar, aku begitu tidak tahu apa yang aku rasakan. Tubuhku diam batu dengan detak jantung yang diam berlalu.
Aku begitu sadar setelah waktu menjemputmu. Api di matamu berangsur padam.
begitukah..., kita harus menerima bahwa memang tidak ada kisah yang bisa tertulis sempurna.
Itukah sebuah pandangan yang terusir jauh oleh waktu. Kemanakah tatatapanku berlayar?
begitu saja dirimu pergi dengan api yang menjalar di matamu
Kau tinggalkan aku, tanpa kau beri aku kesempatan untuk mengetahui namamu.
Walaupun aku mengenalmu dari jauh tanpa benar-benar mengenalmu.
Kau bangitkan aku, dengan membuka mataku. Sungguh tiada kecewa selain derita.
begitu aku sadar bahwa penyesalanku tidak pernah semenyesal ini.
Tapi apalah arti perjuangan tanpa memperjuangkan, begitu kuputuskan itulah keputusanku. Aku begitu paham bahwa setiap jejak pasti meninggalkan jejak. Tanpa kecewa, ku ikuti jejak langkahnya. Satu demi satu langkahnya kususun rapi, sedikit yang bisa kumengerti dari beberapa langkahnya.
Namun pada beberapa kemudian langkah yang kususun, sebagian dari mereka mulai menghilang tak meninggalkan jejak. Sepertinya waktu telah menghapus jejaknya.
Betapa aku ingin dia, aku ingin semua yang ada pada dirinya. Aku tak peduli seberapa egois diriku, yang terpenting aku menyukai dia. Dia... dia... dia hanya dia.
Aku menyukainya sampai mabuk kepayang bahkan hingga dalam tulang.
Oh.., betapa susah-susah mudah mendekatimu, berjuang memilih kata hanya untuk menyapamu.
Aku perlu langsat kuning cina kulitmu, aku butuh lesung pipimu, aku membutuhkanmu.
Aku tak akan merubah yang menjadi keputusanku. Bersama dirimu aku bahagia tanpa logika.
Bersama dirimu aku tak tahu namamu, bersama dirimu, api cintaku menjalar di kedua bola matamu yang kau bawa pergi.
cukup satu pertanyaanku dimanakah alamat kedua bola mata itu berlabuh?
Karena kamu cuma satu dan satu-satunya dan tiada duanya. Aku mau kamu...,
Ada satu hal yang kusyukuri karena aku tak mengucapkan selamat tinggal, karena aku begitu yakin akan kembali bertemu denganmu lagi.
dimana? tidak tahu yang pasti tunggu saja nanti. Biarlah api cintaku yang menjalar di kedua bola matamu berkelana sebentar
Bersambung...,

Komentar
Posting Komentar