ANALISIS CERPEN SI MONTOK KARYA A.A NAVIS DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN MORAL


ANALISIS CERPEN SI MONTOK KARYA A.A NAVIS DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN MORAL


NAMA : MOHAMAD SYAHRIL SOBIRIN
NPM     : 172121034
KELAS : 2 A










Cerpen si montok menggambarkan ketidakberdayaan seorang prajurit akibat kegagahan seorang kapten. Seorang kapten yang berhasil mengawini wanita yang rumahnya dijadikan tempat persembunyian di desa. Wanita itu si montok. Sebelum dijadikan istri oleh kapten, si montok sempat menjadi rebutan prajurit. Sang kapten sebenarnya sudah mempunyai istri yang ditinggalkan di kota ketika seluruh tentara telah mengungsi ke desa-desa karena kota diduduki musuh. Sekitar setahun habis perang, setelah perang usai seluruh tentara kembali ke kota. Maka tinggalah desa=desa yang telah memberi perlindungan hidup pada pejuang-pejuang itu. Si montok pun ditinggal. Sama seperti desanya. Maka orang kota, sama seperti kapten itu juga, sama lupa pada desa-desa tersebut. Juga lupa pada janin yang sehat pada perut si montok. Suatu hari dengan bangga si montok datang ke kota menemui si kapten yang telah jadi mayor. Si montok menemui mayor di rumahnya sudah pasti membuat istri si mayor naik pitam ketika mendengar bahwa bayi yang dibawa si montok merupakan anak si mayor yang dilahirkan si montok.
Banyak sekali aspek-aspek dalam karya sastra yang dapat digunakan, salah satunya yaitu pendekatan moral. Sudah sangat jelas bahwa sebuah karya sastra yang bernilai tinggi adalah karya sastra yang mengandung moral yang tinggi, yang dapat mengangkat harkat dan martabat umat manusia. Sudah tentu bahwa objek utama dari pendekantan ini adalah tokoh. Oleh sebab itu karya sastra yang lebih baik adalah karya sastra yang memperlihatkan tokoh-tokoh yang memiliki kebijaksanaan dan kearifan sehingga pembaca dapat mengambilnnya sebagai teladan. Dalam pendekatan moral menghendaki sastra menjadi medium perekaman keperluan zaman, karya sastra dalam hal ini  dinilai sebagai guru yang dapat dijadikan panutan.
Dalam cerpen si montok karya A.A Navis  menarasikan sebuah keadaan disuatu desa yang disambangi oleh para tentara dari kota dengan latar belakang perang. Dan diceritakan bahwa mereka akan menindak lanjuti perjuangan setelah musuh menduduki semua kota. Selain itu juga terdapat tokoh yang sangat menonjol pada penarasian cerita ini yaitu si montok dan si Dali. Si montok janda anak satu, anaknya bernama Amir yang berusia empat tahun, sama seperti namanya montok berpotongan tubuh yang aduhai. Maka masuk akal-lah apabila tiga prajurit sama berselera kepadanya, selain berjuang menghadapi musuh bersama, mereka sama bersaing memperebutkan hati si montok. Namun ketika persaingan tiga prajurit itu terjadi si Dali lebih unggul dari yang lain sehingga dapat menumbuhkan benih-benih cinta anata si montok dan si Dali, keduanya sama memiliki rasa. Namun si kaptenlah yang berhasil menikahi si montok dan si Dali turut menjadi saksi pada pernikahan tersebut.
Setelah membaca suatu karya sastra kita dapat menyaksikan atau membaca suatu kisah yang tragis, gembira, haru, menegangkan dan yang lainnya. Setelah membaca pengalaman baik senang, sedih maupun yang lainnya pembaca akan mencapai suatu bentuk kebahagiaan atau bentuk kelegaan dan kepuasan bahwa pahlawan selalu menang, bahwa kemenangan putih atas hitam, dengan demikian membaca sastra berarti mengenal berbagai karakter yang sebagian besar merupakan refleksi dari realitas kehidupan. Pembaca akan memahami motif yang dilakukan setiap karakter baik yang protagonis maupaun antagonis sehingga pembaca dapat memahami alasan pelaku dalam setiap perbuatannnya. Bahkan jika karakter tersebut adalah karakter yang tidak ingin dijumpai oleh pembaca dalam kehidupan nyata karena kejahantannya, maka dalam fiksi pembaca akan bertemu berbagai karakter sehingga pembaca mampu memahami motif dan tujuan mereka tanpa resiko yang membahayakan pembaca. Demikian pentingnya pengajaran sastra untuk membentuk moral yang berbudi mulia.
     
Setelah membaca cerpen ini kita secara langsung menyaksikan pengalaman pahit seorang janda anak satu yang dinikahi seorang laki-laki yang telah beristri. Kita semua tahu bahwa tidak semua cerita akan berakhir bahagia, akan berkarhir kemenangan putih diatas hitam, sama halnya dalam kehidupan nyata dalam cerpen ini terdapat tahap sadisme yang dialami oleh tokoh sebelum pada akhirnya semua tokoh saling menyesal akibat perbuatannya. Dalam cerpen ini hampir semua tokoh mengalami penyesalan dapat digolongkan bahwa ini termasuk kedalam cerpen penyesalan. Sebenarnya penyesalan itu tidak ada gunanya dan selalu datang diakhir, tapi penyesalan menjadi sah-sah saja apabila dijadikan sebagai pembelajaran. Entah ada berapa kata penyesalan pada cerpen ini tetapi yang jelas itu sudah menggambarkan sedikit dari cerita ini. Pada kalimat Si Dali marah pada dirinya sendiri menyesali ucapannya. Dan sesal itu tidak bisa diperbaiki. Sesal yang benar-benar tidak ada gunanya. Lalu si Dali pergi membawa gerutu dan caci maki. Juga menyesali dirinya sendiri. Kemudian, kedua perempuan itu menyesal di kediaman masing-masing. Istri mayor menyesal karena telah meledakan pistol suaminya. Si montok menyesal karena membawa bayi kebanggaannya. Si mayor menyesali nasibnya sendiri. Namun, tidak diketahui apakah pistol itu pun ikut menyesal. Sungguh manusiawi apa bila seorang bermoral menyesali perbuatannya, lain pula dengan benda mati khususnya pistol tentu saja begitu, karena pistol itu memang tidak punya perasaan jadi pistol tidak dapat menyesal. A.A Navis membuktikan bahwa karya sastra bermutu bukan hanya yang happy ending dimana kejahatan selalu kalah oleh kebaikan. A.A Navis membuktikan bahwa kehidupan nyata tidaklah sesederhana itu, manusia seringkali harus melalui tantangan, harus melalui tahapan yang sulit untuk menunjukan kualitas dirinya. Dan jika tahapan itu terlalui dengan baik, balasannya tidak selalu dirasakan dalam kehidupan didunia. Terkadang manusia harus mempertaruhkan kehidupannya untuk mencapai kebahagiaan dan hakikat hidup yang sebenarnya.
Boleh dikatakan cerpen ini sangat manusiawi, mengapa… karena dari sifat tokohnya tersendiri. Misalnya, ketiga prajurit mereka menyukai si montok karena badannya yang aduhai. Dan si montok memberi perasaan lebih terhadap si Dali lantaran memiliki pangkat lebih tinggi, hanya karna pangkat atau tahta dapat membuat seorang menjadi luluh. Dan ketika si kapten melamar si montok, orang tua si montok bagai mendapat durian runtuh sehingga tidak perlu memanjat dulu untuk memetik buahnya. Tidak dapat disanggah lagi lamaran si kapten diterima, lagi-lagi pangkat dan tahta lah yang menjadi factor utama yang membuat seorang luluh. Orang tua montok sama dengan orang tua yang lain pada umumnya senang apabila yang menjadi pendamping anaknya sangat jelas bibit-bobotnya. Tapi karena pangkat dan tahta itu membutakan orang tua si montok tentang asal usul si kapten, ya begitulah ketika seseorang sudah mendapat kesenangan maka akan sulit berpikir jernih dan seharusnya sebagai orang yang berakal tidak sepatutnya terbuai oleh pangkat maupun tahta
Dan sebagai orang yang bermoral dan beradab tidak sepatutnya sebagai seorang prajurit yang beristri memperebutkan seorang janda, meskipun begitu hal ini sangat banyak terjadi dimasyarakat seorang mudah tergoda hanya karna bentuk tubuh yang aduhai dan pada cerpen ini selain itu karena mereka sudah lama tak berjumpa dengan istri mereka yang berada di kota. Ini merupakan faktor kesetiaan dalam sebuah hubungan maupun ikatan, namun semua hancur karena nafsu yang membara dan ini patut dipertanyakan. Masunia sebagai mahluk yang berakal, berahlak, bermoral tidak sepatutnya melakukan tindakan itu, tetapi tindakannya itu sangat manusiawi meskipun telah melanggar norma-norma tetapi manusia tetaplah manusia tempatnya salah dan dosa.
Kita sebagai mahluk yang berakal harus senantiasa berpikir secara rasional, dan kita harus bisa mempertanggungjawabkan segala sesuatu yang telah kita perbuat. Jangan sampai kita melepaskan tanggung jawab kita jangan hanya karna sesuatu yang telah kita perbuat mebuat kita menjadi pengecut lari dari masalah meninggalkan semuanya, kita harus senantiasa berpikir jernih meskipun banyak rintangan dan godaan kita menti melaluinya dengan kepala dingin dan berlapang dada. Apabila kita hendak mengambil keputusan tentu harus tenang dan berpikir jernih, jangan sampai termakan oleh amarah setan bahkan sampai membabi buta.
Tentu akan selalu ada akibat yang telah kita sebabkan yang hanya mesnyisakan sebuah penyesalan. Penyesalan perasaan yang harus dirasakan dalam hidup karena dengan menyesal (bagi orang yang berpikir), seorang akan berusaha menjadi lebih baik lagi dan mainimalisasi kesalahan dalam hidupnya. Belajar dari kesalahan, itulah yang akan seorang perbuat setelah menyesal. Menyesal juga jangan berlarut-larut, jangan dijadikan kesalahan itu sebagai beban yang sulit, tapi jadikan itu tantangan serta uji kesabaran agar diri jadi lebih baik lagi. Seorang akan berpikir, lalu melakukan perenungan, kemudian timbullah tekad untuk menjadi lebih baik lagi, maka orang tersebut akan memperoleh kebaikan yang haqiqi.
Telaah moral tersubut diharapkan dapat menghidupkan perasaan saudara pembaca akan kepekaan terhadap penderitaan dan penghargaan atas kejujuran dan pengampunan. Dengan ikut bersimpati dan berempati terhadap suatu karya sastra, maka sastra bukakanlah sesuatu yang hanya ditelaah secara kaku yang merupakan suatu penuturan kehidupan yang ditulis dengan makna didalamnya  

Komentar

Postingan Populer