ANALISIS NASKAH DRAMA PINANGAN KARYA ANTON CHEKOV MELALUI PENDEKATAN STRUKTURAL by racungman
ANALISIS
NASKAH DRAMA PINANGAN KARYA ANTON CHEKOV MELALUI PENDEKATAN STRUKTURAL
A. Sinopsis
Naskah
ini menceritakan seorang lelaki kaya raya yang belum menikah diusia yang telah
mengijak kepala tiga. Lelaki itu bernama Agus Tubagus, suatu hari dengan menggunakan
pakaian serba rapi Agus hendak melamar Ratna wanita yang sudah sangat ngebet
sekali ingin kawin. Ketika sudah berada diruang tamu pak Rukmana, Agus sangat
gugup sekali dan ia sangat bertele-tele dalam berturur kata. Setelah mengetahui
maksud dari kedatangan Agus, Rukmana
sangat gembira sekali ketika tahu bahwa Agus hendak melamar putrinya. Ketika
Ratna mulai datang awalnya baik-baik saja, namun niat yang baik itu berubah
setelah Agus mengatakan bahwa lapangan sari gading merupakan milik Agus yang
merupakan keturunan dari Jayasasmita. Sontak hal itu membuat Ratna terkejut,
Ratna pun mengatakan bahwa lahan itu miliknya. Kejadian ini berlangsung sangat
lama karena kedua kubu sama bersikukuh hingga kumatlah penyakit Agus. Agus tak
kuat lagi menahan sakit yang dirasakannya sehingga ia memutuskan untuk pergi.
Namun setelah kepergian Agus, Ratna menyesal karena telah membiarkannya pergi
lalu ia memerintah Rukmana yang merupakan ayahnya sendiri untuk mencari Agus
dan membawanya kembali. Tetapi setelah kembalinya Agus mereka berdua kembali
melanjutkan pertikaian mereka dengan bersikukuh memperebutkan perihal harga
diri anjing mereka yang mana merupakan hewan peliharaannya. Pertikaian mereka
berdua semakin memanas dan memuncak bahkan Rukmana pun turut terjun langsung
untuk mengikuti pertikaian . Rukmana yang tampak sudah sangat kesal akhirnya
meluruskan dan menjembatani niat awal dari Agus untuk meminang Ratna. Dan Ratna
dengan senag hati menerima pinagannya yang membuat hati Agus bahagia, namun
ketika Rukmana menganggap masalah telah
selesai. Mereka berdua kembali berdebat perihal anjing mereka.
A. Unsur
Intrinsik
1.
Judul
Judul naskah drama
“pinangan” mengidentifikasikan bahwa
naskah ini menceritakan kejadian meminang pasangan dengan cara yang tidak
lazim.
2.
Wawancang
dan Kramagung
( RUANG TAMU DI RUMAH
RADEN RUKMANA KHOLIL)
RUKMANA : Eee ... ada
orang rupanya. O ... Agus Tubagus, aduh, aduh, aduh ... Sungguh diluar
dugaanku. Apa kabar? Baik ... ??
(MEREKA BERSALAMAN).
AGUS : Baik, baik,
terima kasih, bagaimana dengan Bapak?
Untuk wawancang atau
dialog tokoh ditulis dengan huruf
kapital da nada penandaan khusus pada kramagung yang diletakan dengan
buka kurung dan kurung tutup.
3.
Babak
dan Adegan
( RUANG TAMU DI RUMAH
RADEN RUKMANA KHOLIL)
RUKMANA : Eee ... ada
orang rupanya. O ... Agus Tubagus, aduh, aduh, aduh ... Sungguh diluar
dugaanku. Apa kabar? Baik ... ??
(MEREKA BERSALAMAN).
AGUS : Baik, baik,
terima kasih, bagaimana dengan Bapak?
RUKMANA : Baik, baik.
Terima kasih atas doamu, dan seterusnya ... duduklah. Memang tidak baik
melupakan tetanggamu, Agus. Ooo, tetapi kenapa kau pakai pakaian resmi-resmian?
Jas, sapu tangan dan seterusnya ... ... Kau hendak pergi kemana?
AGUS : Oh, tidak Aku
hanya akan mengunjungi Pak Rukmana Kholil yang baik.
RUKMANA : Lalu
mengapa pakai jas segala, seperti pada hari lebaran saja.
AGUS : Begini
soalnya. (MEMEGANG TANGANNYA SENDIRI) Aku mengunjungi Pak Rukmana Kholil yang
baik, karena ada satu permintaan. Sudah lebih satu kali aku merasa sangat
beruntung telah mendapatkan pertolongan dari Bapak yang selalu boleh dikatakan
..., tapi aku, aku begitu gugup. Bolehkah aku minta segelas air, Pak Rukmana?
Segelas air!
Naskah drama Pinanan
terdiri dari dari satu babak karna mulai dari layar pertunjukan di buka sampai
di tutup kembali peristiwa yang berlangsung hanya terjadi dalam satu malam.
4.
Tema
Tema mayor dalam
naskah pinangan yaitu tentang pertengkaran, pertikaian ,dan perdebatan.
RATNA : Maaf, saya
memotong. Kau katakan Lapangan “Sari Gading“ apa benar itu milikmu?
AGUS : Ya, itu
milikku.
RATNA : Jangan
keliru. Lapangan “Sari Gading“ adalah milik kami. Bukan milikmu.
AGUS : Tidak. Itu
adalah milikku, Ratna Rukmana yang manis.
RATNA : Aneh aku baru
mendengar sekarang betapa mungkin tanah itu tiba-tiba menjadi milikmu.
AGUS : Tiba-tiba jadi
milikku? Ah, Nona ... Aku sedang berbicara tentang Lapangan “Sari Gading” yang
terbentang antara Anyer dan Jakarta.
RATNA : Aku tahu,
tapi itu adalah milik kami.
AGUS : Tidak, Ratna
Rukmana yang terhormat. Kau keliru. Itu adalah milik kami.
RATNA : Pikirlah apa
yang kau ucapkan, Agus Tubagus ... Sejak berapa lama tanah itu menjadi milikmu?
AGUS : Apa yang
kaumaksud dengan “beberapa lama“? selamanya aku punya ingatan, tanah itu adalah
milik kami.
RATNA : Mana bisa ...
?
5.
Penokohan
dan perwatakan
Rukmana Kholil (60)
wataknya baik hati, mudah berprasangka buruk, dewasa, bertanggung jawab dan
penyayang
Ratna Kholil (25)
wataknya keras kepala, tidak mau kalah, adatnya jelek, senang cekcok, genit dan
plin-plan
Agus Tubagus (30)
wataknya percaya diri, sombong keras kepala, penyakitan, tidak mau kalah, dan
egois.
6.
Konflik
konflik adalah
pertentangan, percekcokan dan perselisihan. konflik juga merupakan sesuatu yang
dramatik, mengacu pada pertarungan antara dua kekuatan yang seimbang dan
menyiratkan adanya aksi dan aksi balasan.
AGUS : Baik. Akan
kusingkat saja. Ratna Rukmana yang manis, bahwa sejak kecil aku mengenal kau
dan keluargamu, almarhum bibiku dari suaminya, dari mana aku, seperti kau
ketahui, diwarisi tanah dan rumah, selalu menaruh hormat dan menjunjung tinggi
ayah dan ibumu. Dan keluarga Jayasasmita, ayahku, dan keluarga Raden Rukmana,
ayahmu, selalu rukun dan boleh dikatakan sangat intim. Terlebih-lebih lagi
seperti kau ketahui, tanahku berdampingan dengan tanahmu, barangkali kau masih
ingat Lapangan “Sari Gading”-ku yang dibatasi oleh pohon-pohon ...
RATNA : Maaf, saya
memotong. Kau katakan Lapangan “Sari Gading“ apa benar itu milikmu?
AGUS : Ya, itu
milikku.
RATNA : Jangan
keliru. Lapangan “Sari Gading“ adalah milik kami. Bukan milikmu.
AGUS : Tidak. Itu
adalah milikku, Ratna Rukmana yang manis.
RATNA : Aneh aku baru
mendengar sekarang betapa mungkin tanah itu tiba-tiba menjadi milikmu.
AGUS : Tiba-tiba jadi
milikku? Ah, Nona ... Aku sedang berbicara tentang Lapangan “Sari Gading” yang
terbentang antara Anyer dan Jakarta.
RATNA : Aku tahu,
tapi itu adalah milik kami.
AGUS : Tidak, Ratna
Rukmana yang terhormat. Kau keliru. Itu adalah milik kami.
RATNA : Pikirlah apa
yang kau ucapkan, Agus Tubagus ... Sejak berapa lama tanah itu menjadi milikmu?
Awal mulanya konflik
terjadi dan merupakan konflik fisik.
7.
Alur
Pengenalan
RUKMANA : Eee ... ada
orang rupanya. O ... Agus Tubagus, aduh, aduh, aduh ... Sungguh diluar
dugaanku. Apa kabar? Baik ... ??
(MEREKA BERSALAMAN).
AGUS : Baik, baik,
terima kasih, bagaimana dengan Bapak?
RUKMANA : Baik, baik.
Terima kasih atas doamu, dan seterusnya ... duduklah. Memang tidak baik
melupakan tetanggamu, Agus. Ooo, tetapi kenapa kau pakai pakaian resmi-resmian?
Jas, sapu tangan dan seterusnya ... ... Kau hendak pergi kemana?
AGUS : Oh, tidak Aku
hanya akan mengunjungi Pak Rukmana Kholil yang baik.
RUKMANA : Lalu
mengapa pakai jas segala, seperti pada hari lebaran saja.
Cerita
mulai bergerak
AGUS : Terima kasih,
Pak Rukmana ... Maaf ... Pak Rukmana Kholil yang baik, aku begitu gugup.
Pendeknya, tak seorang pun yang bisa menolong saya, kecuali Bapak. Meskipun aku
tidak patut untuk menerimanya, dan aku tidak berhak mendapatkan pertolongan
dari Bapak.
RUKMANA : Akh, Agus
jangan bertele-tele, yang tepat saja, ada apa?
AGUS : Segera ...
segera. Soalnya adalah: Aku datang untuk melamar putri Bapak.
RUKMANA : (DENGAN
GIRANG) Anakku Agus, Agus Tubagus, ucapkanlah itu sekali lagi, aku hampir tidak
percaya.
AGUS : Saya merasa
terhormat untuk meminang ... ...
RUKMANA : Anakku
sayang, aku sangat gembira, dan seterusnya ... (MEMELUK) Aku sudah
mengharapkannya begitu lama sekali. Memang itulah keinginku. Aku selalu
mencintaimu, Agus. Seperti kau ini, anakku sendiri. Semoga Tuhan memberkati
cinta kalian; cinta, kasih yang baik, dan seterusnya ... Aku selalu
mengharapkan ... Mengapa aku berdiri di sini seperti tiang? Aku membeku karena
girang, begitu bahagia seratus persen seluruh hatiku. Alangkah baiknya aku
panggilkan Ratna. Dan seterusnya ...
Konflik
AGUS : Baik. Akan
kusingkat saja. Ratna Rukmana yang manis, bahwa sejak kecil aku mengenal kau
dan keluargamu, almarhum bibiku dari suaminya, dari mana aku, seperti kau
ketahui, diwarisi tanah dan rumah, selalu menaruh hormat dan menjunjung tinggi
ayah dan ibumu. Dan keluarga Jayasasmita, ayahku, dan keluarga Raden Rukmana,
ayahmu, selalu rukun dan boleh dikatakan sangat intim. Terlebih-lebih lagi
seperti kau ketahui, tanahku berdampingan dengan tanahmu, barangkali kau masih
ingat Lapangan “Sari Gading”-ku yang dibatasi oleh pohon-pohon ...
RATNA : Maaf, saya
memotong. Kau katakan Lapangan “Sari Gading“ apa benar itu milikmu?
AGUS : Ya, itu
milikku.
RATNA : Jangan
keliru. Lapangan “Sari Gading“ adalah milik kami. Bukan milikmu.
Klimaks
AGUS : Pak Rukmana,
saya hanya meminta jawaban atas pertanyaanku, apakah si Kliwon berkumis pendek
atau tidak? Iya atau tidak?
RUKMANA : Mengapa
kalau ya? Mengapa kalau tidak? Itu kan tidak berarti apa-apa? Tidak ada lagi
anjing yang baik di seluruh daerah kita ini.
AGUS : Tetapi anjing
si Belang lebih baik dari si Kliwon, bukan?
RUKMANA : Jangan
terburu-buru, Agus. Duduklah. Si Belang tentunya memiliki sifat-sifat yang
baik. Dia anjing yang tahu adat. Kakinya kuat. Cukup gemuk dan seterusnya ...
Tapi anjing itu Agus, kau ingin tahu? Hidungnya berbentuk bola ...
AGUS : Maaf, hatiku
berdebar-debar. Mari kita tinjau fakta-faktanya. Kalau kau insyaf, di rumah Wak
Mansyur, anjing Raden Martasuwanda dikalahkan si Belang, sedangkan anjing
Bapak, si Kliwon, setengah kilo di belakang mereka.
RUKMANA : Bohong,
Agus. Aku orang yang cepat marah. Dan kuminta kau menghentikan perdebatan ini.
Ia dilecut orang, karena setiap hari orang iri melihat anjing orang lain.
Misalkan saja kau menemukan bahwa anjing kami lebih pandai dari pada si Belang.
Kau mulai mengatakan ini dan itu dan seterusnya ... Ingat itu, Agus?
AGUS : Kuingat juga
...
Penyelesaian
RUKMANA : Siapa mati?
(MELIHAT AGUS) Dia benar-benar telah mati, ya Tuhan! Dokter! (MELETAKKAN AIR DI
BIBIR AGUS)
Minum ... Ia tidak
mau minum. Jadi dia mati, dan seterusnya ... Mengapa aku tidak menembak diriku?
Beri aku pistol! ... Pisau!
(AGUS BERGERAK-GERAK)
kukira ia hidup...Minumlah,Agus ...
AGUS :
(BERKUNANG-KUNANG) Dimana aku?
RUKMANA : Sebaiknya
kau segera kawin, dan seterusnya, persetan kalian. Dia menerima lamaranmu dan
akan kuberikan anakku kepadamu.
AGUS : Ah, siapa?
(BANGUN) Siapa?
RUKMANA : Ia menerima
kamu dan persetan dengan kalian.
RATNA : (HIDUP) Ya,
kuterima lamaranmu.
RUKMANA : Jabatlah
tangannya, Nak. Dan seterusnya ...
AGUS : Hah? Apa? Aku
gembira. Maaf Ada apa sebenarnya? Oh ya, aku mengerti. Hatiku berdebar-debar,
kepalaku pusing, aku senang Ratna yang manis.
RATNA : Saya ... saya
juga senang Agus Tubagus.
RUKMANA : Nah ... Selesailah
sudah satu persoalan di dalam kepalaku.
1.
Latar
( RUANG TAMU DI RUMAH
RADEN RUKMANA KHOLIL)
RUKMANA : Eee ... ada
orang rupanya. O ... Agus Tubagus, aduh, aduh, aduh ... Sungguh diluar
dugaanku. Apa kabar? Baik ... ??
(MEREKA BERSALAMAN).
AGUS : Baik, baik,
terima kasih, bagaimana dengan Bapak?
Berlatar di ruang
tamu rumah Rukamana Kholil
2.
Gaya
bahasa
Naskah drama Pinangan
karya Anton Chekov memiliki retorika yang dinilai sesuai dengan konteks
ceritanya yang berlatarkan sebuah kehidupan manusia dizaman ini.
3.
Amanat
Kita hendaknya selalu
berprasangka baik terhadap seseorang, kita juga hendak menghargai pendapat
orang lain, dan kita jangan berasumsi jika tidak ada bukti dan jangan terlalu
bersikeras terhadap sesuatu sehingga membuat kita tidak mau mengalah, kita juga
harus menggunakan adab ketika bertamu.
B.
Unsur Ekstrinsik
Kepengarangan
Anton
Pavlovich Chekhov (29 Januari 1860 – 15 Juli 1904) (Kalender Julian: 17 Januari
1860 – 2 Juli 1904) adalah seorang penulis besar Rusia yang terkenal terutama
karena cerpen-cerpen dan dramanya. Banyak dari cerpennya dianggap sebagai
apotheosis dari bentuk sementara dramanya, meskipun hanya sedikit - dan hanya
empat yang dianggap besar - mempunyai dampak yang besar dalam literatur dan
pertunjukan drama.
Chekhov
lebih dikenal di Rusia modern karena ratusan cerpennya, dan banyak di antaranya
dianggap merupakan adikarya dalam bentuk karangan tersebut. Namun
drama-dramanya juga memberikan pengaruh yang mendalam terhadap drama abad
ke-20. Dari Chekhov, banyak pengarang drama kontemporer belajar bagaimana
memanfaatkan suasana hati, hal-hal yang kelihatannya tidak berarti dan inaksi
(berdiam diri) untuk menyoroti psikologi batin para tokohnya. Keempat drama
utama Chekhov - Burung Camar, Paman Vanya, Tiga Saudari, dan Kebun
Ceri—seringkali ditampilkan kembali dalam pementasan-pementasan modern.
disusun oleh : racungman dengan segala keamatirannya
Komentar
Posting Komentar