Analisis cerpen dengan pendekatan historis/kesejarahan by racungman
Tahun Ini Ratih Juga Ingin Menangis
MOBIL jip butut dengan asap knalpot yang pekat itu akhirnya
menemukan tempat parkir, meski sedikit jauh dari pintu masuk Taman Kota, tempat
warga kota Pekanbaru biasa menghirup udara apabila langit sedang sehat. Tapi seorang
lelaki di dalam mobil itu belum juga turun. Dia memicingkan mata ketika cahaya
matahari sore menerpa wajahnya.
Si lelaki terlihat gugup di balik
kemudi. Berkali-kali dia bercermin di kaca spion, merapikan rambutnya yang
tidak kusut sama sekali. Masih berat hatinya untuk turun dari mobil. Dia
mengambil sapu tangan dan membersihkan wajahnya yang tidak kotor sama sekali.
Sekali lagi dia melihat ke kaca
spion, mengencangkan kerah kemejanya, berusaha menutupi kegugupan pada
wajahnya, yang pada dasarnya memang terlihat seperti itu.
Si lelaki turun dari mobil dengan
pandangan ragu ke arah pintu masuk taman. Jantungnya berdegup kencang ketika
dia mulai berjalan, ketika lamat-lamat dia mulai mendengar suara keramaian dari
arah taman.
Si lelaki berjalan sepanjang trotoar
yang dipenuhi lapak kaki lima. Gerobak sate Padang, bakso, gorengan, es tebu,
dan es kelapa muda yang tidak berhenti melayani orang-orang sedari siang. Tapi
keramaian itu, serta aroma sate Padang yang sedang dikipas dan kuah bakso yang
sedang dituang ke dalam mangkuk, tidak mengalihkan pandangannya dari suasana
taman yang banyak berubah sejak dia kecil sampai hari ini. Dia hafal betul,
pohon yang dulunya masih bibit, sekarang sudah sangat tinggi. Sebab, sekali
dalam setahun dia selalu berkunjung ke taman ini.
Taman kota selalu dipenuhi beberapa
pasang anak muda dan orang lanjut usia yang melintasi jalur berbatu; mereka
percaya bahwa berjalan di atas jalur berbatu itu dapat melancarkan peredaran
darah. Juga ada pohon-pohon berbatang besar dan rindang, dan beberapa baris
bangku yang menghadap sebuah danau kecil yang sampai sekarang orang-orang di
sana tidak tahu airnya berasal dari mana.
Di bagian lain taman, ada beberapa
anak perempuan sedang bermain lompat tali. Seorang anak perempuan yang mendapat
giliran melompat, tidak peduli ketika roknya tersingkap, dan tidak peduli pula
ketika ada anak laki-laki yang sedang bermain gundu sambil memperhatikannya,
terutama mungkin pahanya, tanpa berkedip. Tapi anak perempuan itu malah
memperhatikan anak lelaki lain yang bersandar sendirian di bawah rindang pohon.
Anak kecil selalu bahagia, pikir si
lelaki sambil berjalan. Dia teringat masa kecilnya yang selalu bermain di sana
setiap sore. Dia sangat benci bermain dengan para anak laki-laki, karena mereka
seringkali berbuat curang dan kasar kepadanya. Tapi hal itu justru tidak
membuatnya bermain bersama anak perempuan. Dia lebih memilih menyendiri di
bawah rindang pohon, membaca novel Lima Sekawan atau majalah Bobo, sambil
sesekali, ketika membalik halaman-halaman buku, dia melirik anak perempuan
bermain setatak dan lompat tali itu.
Si lelaki merasa dirinya yang kecil
masih berada di sana ketika itu. Tapi ketika dia sampai di pintu taman,
tubuhnya gemetar. Dia kembali menimbang niat untuk masuk ke sana.
Sementara itu di sebelah pohon
Platan, pohon hias yang memiliki daun lebar dan kulit luar yang tipis, yang
tertanam di sebuah pot batu, Ratih duduk sendirian di sebuah bangku panjang,
menghadap ke kolam yang di tepinya ada seekor burung gereja sedang mematuk biji
kenari. Tapi pikirannya berpaling ke arah anak-anak lelaki yang sedang bermain
gundu. Ratih teringat sesuatu, ketika melihat seorang anak menangis karena
gundunya terlempar jauh, mungkin pecah, setelah dipancer temannya.
Suara tangis itu membawa Ratih ke
sebuah waktu beberapa puluh tahun yang lalu ketika dia bermain setatak di taman
ini setiap sore. Gerakan Ratih kecil sangat lincah. Kakinya sangat lentur
ketika melompati kotak demi kotak. lompatannya menjadi lebih tinggi, ketika
melalui kotak yang sedang ada ucak-nya, sehingga roknya tersingkap terlalu
tinggi. Ratih kecil juga sengaja tidak mengepang rambut hitam berkilaunya yang
lurus sampai ke bahu, karena dia tahu sedang dilirik oleh seorang lelaki kecil
yang bersandar di bahwa pohon. Ratih kecil juga tahu, ketika dia berhenti
melompat, dan rambutnya yang berderai sudah jatuh kembali ke bahu, si lelaki
kecil pasti akan kembali membaca buku. Ratih kecil tahu, bersembunyi wajah yang
gugup dan pemalu di balik buku itu.
Sejenak angin musim panas sore ini
berhembus di belakang leher Ratih, menyadarkannya dari lamunan yang panjang.
Pandangannya tertuju ke salah satu pohon tempat si lelaki kecil yang dulu
pernah meliriknya. Si lelaki kecil tidak akan berda lagi di sana, karena
dirinya yang telah dewasa, yang gugup, yang tadi menimbang niat untuk masuk ke
taman, telah duduk di sebelah Ratih.
”Hei.“ Ratih sedikit kaget,
senyumnya bertanya-tanya, suaranya yang gembira dikeluarkannya semua, ”Brewokan
ya sekarang?“
Mereka saling bertukar senyum,
setelah si lelaki mengatakan bahwa memelihara brewok lagi musim. Katanya,
mungkin karena obat penumbuh rambut Wak Doyok benar-benar terbukti khasiatnya.
Si lelaki mendekat ke Ratih dan menggenggam tangannya.
Si lelaki mengikuti pandangan mata
Ratih ke langit biru kota Pekanbaru. Sebuah gumpalan awan bermekaran di langit
bagian barat, berbentuk kelopak bunga yang keluar dari tangkainya. Mirip
seperti gumpalan awan suatu sore puluhan tahun yang lalu, ketika Ratih kecil
memberanikan diri menegur si lelaki kecil, dan mengajaknya si lelaki kecil
pulang bersama-sama.
Mereka berdua adalah sepasang anak
kecil yang sangat bahagia. Mereka menyeberang Jalan Diponegoro yang dipenuhi
mobil-mobil keluaran terbaru, menuju Jalan Ronggowarsito yang mulai dijamuri
kafe-kafe bergaya borju. Sebelum di pertigaan mereka berpisah, menuju rumah
masing-masing.
Keesokannya si lelaki kecil kembali
datang ke taman, berharap mengulangi kejadian kemarin. Tapi Ratih kecil tidak
muncul di antara teman-temannya. Keesokannya pun begitu, lusa, seminggu
kemudian, hingga akhirnya si lelaki kecil memberanikan diri bertanya kepada
salah satu teman Ratih kecil.
Si lelaki kecil tidak percaya apa
yang telah didengarnya.
Meski begitu, si lelaki kecil tetap
datang ke taman, bersandar sendirian menghadap ke kolam. Ratih kecil juga
melihatnya. Ratih kecil tersenyum, tapi matanya berkaca-kaca. Si lelaki
mendekat dan memeluknya.
SEMENJAK itu si lelaki hanya datang setiap satu tahun sekali, pada
tanggal ketika mereka berpisah itu.
Seperti hari ini, Ratih dan si lelaki
yang telah dewasa kembali berpelukan. Seperti yang terjadi setiap satu tahun
sekali.
Orang-orang di taman berhenti
berkegiatan. Bahkan sebutir gundu yang sedang ditembakkan seorang anak,
berhenti di udara. Anak perempuan yang roknya sedang tersingkap, menunda
kakinya menyentuh tanah. Orang-orang lanjut usia, para remaja yang berpacaran,
pedagang kaki lima, dan orang-orang yang sebelumnya tidak jelas sedang apa di
sana, melihat kepada si lelaki yang mereka kira adalah orang gila. Hanya seekor
cicak yang berumah di balik dahan pohon yang tahu bahwa ada Ratih di pelukan si
lelaki.
”Tahun ini kau jangan menangis lagi,
Ratih.“ Setelah mengatakan itu, si lelaki mendaratkan bibirnya ke bibir Ratih.
Mereka menghabiskan sore itu dengan ciuman yang panjang.
Hari sudah terlalu sore. Satu per
satu warga mulai meninggalkan taman. Ratih dan si lelaki pun merasa sudah
waktunya pulang. Mereka bergandengan menuju pintu taman, dan berpisah di sana.
Si lelaki menuju mobil jipnya. Hatinya sedikit lega meski dia tahu, dari kaca
spion, Ratih sudah menghilang.
Di sebuah tempat, di kedalaman
rimba, Ratih menangis. Air matanya mengalir deras dari pipi ke leher, membasahi
kalung mutiara putihnya. Air matanya terus mengalir menuju celah di
payudaranya. Terus mengalir melalui perut, singgah di paha sampai ke telapak
kaki. Lalu akhirnya membuat genangan di tanah.
Tidak lama kemudian, seberkas cahaya
matahari datang tidak beraturan. Beberapa sinarnya menuju genangan air mata
itu. Si genangan terpaksa memantulkan sinar-sinar itu ke banyak arah. salah
satunya terpantul ke tumpukan daun kering. Daun kering itu kemudian mulai
terbakar. Sedikit demi sedikit membagi apinya ke daun-daun yang lain, hingga
seluruh daun yang kering ikut terbakar. Percik api dari dedaunan kering itu
ditiup angin sehingga beterbangan ke mana-mana.
Salah satu percik api singga di
lahan gambut. Mendarat di sehelai rumput kering yang kemudian mulai terbakar.
Apinya menjalar ke rerumputan di sekitarnya. Api mulai membesar dan meluas,
membakar apa yang ada di sekitarnya. Dari sana, bangkitlah asap pertama,
membuat bayangan kelabu di atas kobaran api. Lalu asap itu bersatu bersama
angin, membawanya ke tempat-tempat yang lain.
Seorang mandor perusahaan melihat
ada asap kehitaman mengepul di udara. Si mandor kemudian melaporkan kejadian
itu kepada bosnya. Tapi bosnya malah tertawa. Si bos menganggap itu kesempatan,
dan memerintahkan si mandor untuk membuat apinya bertambah besar. Karena si
mandor takut kehilangan pekerjaan, maka dia melakukannya.
Maka keesokan si api bertambah
besar. Asap bertambah pekat. Semua arah angin setuju bersatu dengan asap untuk
mengirimnya ke banyak tempat. Menuju kampung-kampung terdekat, sampai kota-kota
terjauh. Pekanbaru, Siak, Rengat, Pangkalan Kerinci, dan seluruhnya diselimuti
asap yang tebal kehitaman. Televisi, radio, koran, dan media sosial mewartakan
kejadian yang sama. Bahwa beratus-ratus hektar hutan sedang dilahap api, bahwa
ada ribuan titik api yang terdeteksi oleh satelit. Mereka kemudian memberinya
nama kabut asap, serta menjadikannya bencana nasional.
Pemerintah pusat dan daerah saling
menyalahkan karena tidak ada yang merasa bersalah. Kedua pemerintah itu
menyalahkan perusahaan-perusahaan yang membuka lahan tanpa izin dengan membakar
hutam. Sedangkan perusahaan-perusahaan tidak mengakuinya, sehingga penduduk di
pelosok kampung-kampung disalahkan karena diduga membakar hutan untuk membuka
lahan. Karena tidak mau disalahkan, penduduk kampung kembali menyalahkan
pemerintah pusat dan daerah, yang belum juga menemukan jalan keluar. Demo
marak.
Sementara itu Ratih masih terus
menangis sehingga lebih banyak genangan lain yang memantulkan sinar dari cahaya
matahari. Sehingga semakin banyak titik api yang terdeteksi oleh satelit.
Relawan-relawan mulai datang
membantu membuat selokan dan sumur bor di tengah hutan. Jutaan ton garam mulai
ditaburkan dari atas helikopter dan pesawat terbang. Semua dukun dari berbagai
penjuru dikumpulkan untuk memanggil hutan. Tapi kabut asap malah bertambah
pekat, dan angin musim panas membawanya sampai ke negeri-negeri tetangga.
Sampai satu bulan lebih kabut asap
melapisi langit. Tangis Ratih mulai sedikit mereda, tapi alat ukur polusi udara
di kota Pekanbaru tetap menunjukkan status berbahaya.
Di balik jendela kamarnya kamarnya,
si lelaki berdoa. Badannya gemetar melihat langit subuh yang merah. Bau asap
yang tidak enak menerobos masuk ke rumahnya.
”Sampai jumpa sebelum kabut tahun
depan, Ratih, aku mencintaimu,“ katanya lirih, sambil meremas kalung tasbih.
Sepasang matanya berkaca-kaca memandangi sebuah kliping koran tertanggal dua
puluhan tahun lalu yang masih ditempel di dinding kamarnya.
KEPALA BIRO DINAS KEHUTANAN BERSAMA
ISTRI DAN SEORANG ANAKNYA DITEMUKAN TERBUNUH DI HUTAN.
Catatan:
Setatak, permainan khas anak-anak di Riau dan mungkin juga daerah
sekitarnya, di masa sebelum telepon genggam berkuasa. Ucak, pecahan
genteng, ubin, dan sejenisnya, yang dilemparkan ke salah satu kotak permainan setatak.
ANALISIS
CERPEN DENGAN PENDEKATAN HISTORIS
KARYA
ALPHA HAMBALLY
Judul cerpen : Tahun Ini Ratih Juga Ingin Menangis
A.
UNSUR
INTRINSIK
1. Tema
Bencana
kabut asap
2. Tokoh
a) Ratih
sifatnya lincah , ingin jadi pusat perhatian , ramah , cengeng dan misterius.
b) Lelaki
sifatnya pemalu , suka terhadap ratih, romantis
3. Latar
a) Tempat
Pekanbaru
b) Waktu
·
1996
·
2016
c) Suasana
·
Sedih
·
Haru
·
Prihatin
4. Alur
Campuran
5. Bahasa
dan gaya bahasa
Bahasa
lugas dan banyak menggunakan gaya bahasa personifikasi, sarkasme dan lain-lain
6. Sudut
pandang
Orang
ketiga serba tahu
7. Amanat
Sudah
selayaknya kita sebagai mahluk bermoral untuk menjaga lingkungan serta
berinteraksi dengan sesame
B.
NILAI
SEJARAH DALAM CERPEN TAHUN INI RATIH
JUGA INGIN MENANGIS KARYA ALPHA HAMBALLY
1.
Pekanbaru
tahun 1996
“Membaca novel Lima Sekawan atau majalah
Bobo, sambil sesekali, ketika membalik halaman-halaman buku, dia melirik anak
perempuan bermain setatak dan lompat tali itu”. Kalimat tersebut menjadi
salah satu penjelas bahwa kejadian tersebut terjadi pada tahun 1990-an, bermain
kelereng, bermain lompat tali dan setatak merupakan permainan yang poluler pada
masanya. Tidak sepeti zaman sekarang semua anak sibuk memainkan gadgetnya
masing-masing meskipun sedang berada di taman.
Novel lima sekawan dan majalah Bobo
sesuatu yang sangat digandrungi pada tahun 1990-an dan perlu diakui bahwa hal
tersebut masih popular pada zaman sekarang meskipun kepopulerannya masih
dibawah tik-tok.
Inilah
masa dimana permainan tradisional masih Berjaya. Terbukti bahwa anak-anak sangat
sedang bermain ditaman bercanda tawa,
bersenda gurau dengan teman dan saling berinteraksi membuat masa kecil tidak
terbuang sia-sia.
Sepasang
matanya berkaca-kaca memandangi sebuah kliping koran tertanggal dua puluhan
tahun lalu yang masih ditempel di dinding kamarnya. Berarti menunjukan tahun
1996 karena kejadian kabut asap yang terjadi di pekanbaru yaitu pada tahun
2016.
2.
Pekanbaru tahun 2016
“Mungkin karena obat penumbuh rambut Wak Doyok benar-benar
terbukti khasiatnya”. Krim penumbuh rambut Wak Doyok mulai didistribusikan ke
Indonesia pada tahun 2016.
“MOBIL jip butut
dengan asap knalpot yang pekat itu akhirnya menemukan tempat parker”. Hanya
ditahun 2016 mobil jip dianggap butut karena pada masa kejayaaannya beberapa
tahun sebelumnya jip dikatakan kendaraan mewah.
Persitiwa kabut asap pada cerpen ini sudah jelas
merupakan bencana kabut asap yang terjadi di pekanbaru pada tahun 2016 silam.
Terbukti karena pada saat itu seluruh pekanbaru diselimuti kabut hingga
berbulan-bulan tidak hanya itu kabut pun meluas ke daerah-daerah sekitar pekan
baru bahkan hingga negri tetangga. Seluruh media massa mewatakan berita yang
sama yaitu beratus-ratus hektar hutan dilalap api, bahkan ada ribuan titik api
yang terdeteksi satelit dan dinamakanlah kejadian ini sebagai kabut asap serta
dijadikan sebagai bencana nasional.
Pemerintah pusat dan daerah saling
menyalahkan karena tidak ada yang merasa bersalah. Kedua pemerintah itu
menyalahkan perusahaan-perusahaan yang membuka lahan tanpa izin dengan membakar
hutam. Sedangkan perusahaan-perusahaan tidak mengakuinya, sehingga penduduk di
pelosok kampung-kampung disalahkan karena diduga membakar hutan untuk membuka
lahan. Karena tidak mau disalahkan, penduduk kampung kembali menyalahkan pemerintah
pusat dan daerah, yang belum juga menemukan jalan keluar. Demo semakin marak.
Relawan-relawan mulai datang membantu
membuat selokan dan sumur bor di tengah hutan. Jutaan ton garam mulai
ditaburkan dari atas helikopter dan pesawat terbang. Semua dukun dari berbagai
penjuru dikumpulkan untuk memanggil hutan. Tapi kabut asap malah bertambah
pekat, dan angin musim panas membawanya sampai ke negeri-negeri tetangga.
Komentar
Posting Komentar