HABIS TERANG
“Jangan sampai kau lemah
Ku yakin kau pasti bisa bangkit
Jangan anggap kau sendiri hadapi
Ada aku disini”
Lagu ini mengingatkan ku pada hari-hari kemarin yang telah lalu. Dengan rasa angkuh, mencipta waku demi waktu yang menjadikannya kisah. Rasa yang sama, tempat yang sama, lagu yang sama, meja yang sama, makanan yang sama dengan piring yang sama, minuman yang sama namun dengan gelas yang berbeda.
Ketika waktu berpihak pada kebahagiaan, lalu terbentuklah kenangan karenanya, apakah itu dinamakan delusi? Atau hanya sekedar mengingatkan bahwa rasa ini pernah datang.
Apa yang kau lakukan saat tak kulihat, apa yang kau katakan saat tak kudengar. Apakah ini yang dinamakan dengan kesedihan yang singgah?
Ku harap aku sabar menunggu. Jujur aku tak akan lupa janji ini.
Sapuan dua kalimat yang akan selalu ku ingat. Waktu, bukankah kita ini teman? Lebih dari dua jam, tatapku lelah mencari. Tak ada sedikitpun tanda-tanda dari kedatangannya.
Setiap sadar kusadarkan, ku ingat-ingat satu demi satu situasi, menyimpan sudut demi sudut yang menjadi peristiwa di belakangku. Benarkah hidup begitu sepi walaupun ada dalam keramaian sekalipun, dan tak ada yang menjawab pertanyaanku.
Dulu angsa-angsa putih berenang memutari bibir-bibir gelas minuman yang kita pesan. Dan deru kucuran air memenuhi setiap gelas yang lapar, melumat pandangan kita yang sama-sama bungkan dan benam.
Kita berada dikemudian rasa yang seketika melesat ke lapisan langit paling atas. Suara orang-orang berbincang-bincang memecah keheningan diantara kita dengan gaya tegak lurus yang menghasilkan dua vektor dengan bentuk gravitasi yang sama: ada yang membicarakan hubungan asmara, ada yang membicarakan pekerjaan mereka, bahkan ada juga yang membahas tugas sekolah.
Lamunanku pecah, menunggu kedatangannya. Ingatan demi ingatan singgah melalui rasa yang tak berubah. Kehadiranku adalah bentuk ikhtiar paling akhir, sebuah usaha yang hadir dengan resah: seperti mitos-mitos yang dipatahkan teknologi-teknologi canggih.
Setelah dokter mendiagnosa kematianku. Tuhan tak berkata apapun. Dokter mengatakan bahwa sisa umurku tinggal menyisakan enam hari.
Kenyataannya pada hari ketiga, malaikat maut sudah singgah. Dengan senyuman, ia menarik paksa nyawaku dari dari jasadku. Dan aku hanya merelakan dan mengikhlaskan nyawaku tanpa memberikan perlawanan.
Jasadku tergeletak tepat di depan TV yang menyala; yang memberitakan tentang banyak partai politik yang menjadikan bencana sebagai bahan kampanye.
Malaikat maut tak peduli. Ia lekas memasukan nyawaku kedalam ransel yang ia bawa; yang di dalamnya dipenuhi oleh banyak nyawa, yang kebetulan nyawanya sama-sama dicabut pada hari yang sama.
Dia datang. Bau parfum ini, aku kenal betul aroma ini; aroma pink pepper, orange blossom, dan pear. Ditambah sentuhan aroma kopi, bunga jasmine, vanilla, dan patchouli. Sebuah kombinasi wangi yang segar dan elegan.
Dia tak sendiri. Dengan siapa dia? Seorang lelaki dan seorang anak perempuan. Aku tak tahu siapa mereka. Mereka datang dengan bergandengan tangan. Mereka cukup mesra. Dan anak perempuan itu, memiliki mata yang sama persis dengannya.
Sebenarnya apa yang terjadi? Apa yang tak kuketahui?
“Mama, apa ini mejanya?”
Tunggu,.. anak kecil itu tadi mengatakan ‘Mama’. Aku benar-benar tidak mengerti. Aku benci situasi ini.
“El, kamu duduk deket papa!”
‘Mama?’...‘Papa?’..., Perasaanku gugur; memudar dengan pasti. Aku tak percaya Hanna menikahi duda anak satu.
Tak ku sangka sebelumnya bahwa ia akan cepat melupakanku. Meninggalkan ku pada rasa yang ia tinggal di hari-hari kemarin.
Kalau aku masih ada, akankah rasamu masih sama?
“Kak El, duduk yang manis dong!”
“Kak El? Kamu hamil lagi Mah?
“Udah 4 minggu.”
“Aku punya ade Pah? Aku mau ade perempuan Mah.”
Apa aku berkemungkinan salah? Apa maksud semua ini? Apa saja yang tak kuketahui selama aku tak ada?
Melihat mereka; membuatku tertunduk, rasanya ingin sekali untuk sekedar interupsi. Dadaku serasa sesak dan ingin segera meledak. Dengan sesaat, aku seakan-akan terbakar oleh api abadi Yanar Dag Azerbaijan yang panasnya limpung menjadi amarah; memberi bekas luka dengan rasa sakit yang bertubi-tubi.
Aku bertanya-tanya dalam keadaan bertanya-tanya. Aku ingin sekali bertanya padanya; meminta kejelasan. Apa maksudnya semua ini?
Aku tak tahu bagaimana caranya. Aku ingin sekali bicara dengannya untuk terakhir kalinya. Menyelesaikan apa yang belum selesai. Menodong kepastian apa yang sebelumnya tidak pasti.
Padahal sebelumnya aku berpikir, bagaimana bisa aku di sini? Bukankah kematian membatasi dunia nyata
ckckckk
BalasHapus