Temu Rasa

     Dua cangkir kopi yang sama-sama mendingin. Dan dua pasang mata yang saling berpaling. 

Waktu tak kunjung kendur ditengah resah yang tak berkesudahan.

Diantara jari tangannya yang diketuk-ketukan dibibir cangkir, muncul sesuatu yang pernah hilang. 

Barangkali, itu sebuah ingatan yang merembes pada biji-biji kopi yang sudah berwujud cair.

Kepul-kepul aroma kopi melangit bersama kita yang sama-sama diam.

Sedang di luar angin bertempur hebat dengan hujan hingga menculik senyumannya yang melawas.

Tak ada sepatah kata pun terucap

                                              ***


Aku menyusuri kembali jejak yang telah ku tapak. Entah mengapa rasanya seperti mencair dengan waktu.

Saat lampu-lampu jalan memerangi gelap. Risau dengan rasa yang samar-samar menjerit-jerit dalam hati dari takut yang berbekas.

Aku menyendiri dari seluas-luasnya kehidupan. Merasa asing dikeramaian dan merasa diserang oleh tatapan-tatapan yang menjerumuskanku pada kesendirian.

Disela ceruk-ceruk tawa mereka yang berceceran di sepanjang jalan, aku merasa lelah dengan semua ini.

Kemudian aku berbaring dalam pikiran yang kosong. Berjalan melenggang dari hampa satu ke hampa yang lain.

Aku sudah malas untuk berjalan lagi. Ku ludahkan kata-kata pada angin yang bertiup ke barat

Mereka bertempur di langit, menjadi ledakan bintang yang bertaburan di tempat aku merasa terasing.

Komentar

Postingan Populer